Alhamdulillah…sungguh karunia yang luar biasa

Sabtu tanggal 21 Maret ’09

Sekitar jam 6.30 wib, selesai beres-beres kok ada air keluar dari “itu” ya….saya coba lihat dan menciumnya, kok nggak  berbau dan berwarna, bening seperti air. Malamnya memang sudah keluar flek berwarna coklat, dikira hanya flek biasa bukan tanda-tanda mau melahirkan, biasanya kalau mau melahirkan keluar flek berwarna merah (darah) dan berlendir. Untuk memastikan saya pergi ke dokter yang kebetulan hari ini jadwal kontrol. Oia, minggu ini kehamilan saya memasuki usia 38 minggu. Sekitar jam 9.00 wib saya sampai di klinik bersalin Kartini, lansung daftar dan menceritakan kejadian yang saya alami. Bagian administrasi langsung menyuruh saya ke ruang bersalin untuk diperiksa. Ada bidan yang menangani saya karena dokter yang biasa memeriksa saya belum datang. Setelah dia cek ternyata air tersebut rembesan ketuban saya dan ternyata juga sudah ada pembukaan satu. Bidan menanyakan apakah saya merasakan mules, saya jawab tidak sama sekali. Segera setelah dia memeriksa saya, saya langsung diinfus untuk diinduksi, ternyata diinfus itu sakit huehuehue…..seumur hidup saya baru kali ini saya diinfus, rasanya benar-benar tersiksa 😦 dan penderitaan baru dimulai…..

Sekitar jam 15.00 wib, sudah mulai terasa mules, walaupun masih jarang, 10 menit hanya 4 kali kontraksi, tapi sungguh terasa nikmat huehue…..pembukaan bertambah menjadi dua. Hari ini sungguh terasa lamaaaa…..

Magrib masih terasa mules pembukaan belum juga bertambah, badan sudah tidak karuan rasanya, pengen pipis aja, punggung sakit, semua terasa serba salah. Hingga larut malam pun pembukaan belum juga bertambah.

Minggu, 22 Maret ’09

Pagi sudah menjelang, pembukaan masih berjalan pelan. Dalam satu ruangan bersalin ini hanya ada saya dan seorang bumil yang bernasip sama. Bumil itu merasakan kesakitan semenjak kemarin subuh karena pembukaan berjalan lambat. Sekitar jam setengah 7 ada bumil baru yang mau melahirkan juga, anak kedua, tempatnya tepat disamping saya. Sebelum kedatangan bumil ini terasa hening, sepi, tetapi setelah dia datang semuanya terasa berisik dan sungguh tidak nyaman. Dia mulai berteriak-teriak kesakitan, banyak keluarganya yang  lalu lalang, sungguh sangat mengganggu. Dan satu yang membuat saya sangat stress, jam 12 siang dia sudah melahirkan putranya, hiks…..sedangkan saya masih berjuang.

Jam 12 siang, pembukaan hampir lengkap. Terasa ingin mengejan seperti ingin pup yang sangat besar, dokter belum juga datang. Sakit yang amat luar biasa, semuanya bercampur aduk. Bidan belum memperbolehkan saya mengejan karena pembukaan baru 8, apabila saya terus mengejan akan terjadi pembekaan dan menyebabkan susahnya persalinan nanti.

Pembukaan sudah lengkap, akhirnya dokter datang, dokter langsung bersiap-siap dan memberikan aba-aba untuk mengatur nafas. ” Ayo bu….tarik nafas pelan-pelan, tahan, dorong…..”  “sekali lagi…….” ini berlangsung sangat lama. Infus sempat dibuka karena dianggap sudah tidak perlu, tetapi ternyata setelah infus dibuka rasa mules hilang, akhirnya infus dipasang kembali, sungguh hal yang tidak menyenangkan. Mengejan dimulai lagi ” tarik nafas….dorong….”, “ayo bu sudah kelihatan kepalanya”, “tarik nafas……dorong…..”. Sudah hampir 2 jam tetapi bayi tidak juga keluar, badan saya sudah terasa lemas dan tidak bertenaga, ternyata ini disebabkan saya salah mengejan, seharusnya waktu mengejan harus didorong bukan ditahan diperut, ini yang menyebabkan kepala bayi yang sudah hampir keluar masuk lagi. Jika 2 jam bayi tidak juga keluar, dokter akan melakukan tindakan vacuum, wah…saya langsung teringat kejadian-kejadian yang diceritakan beberapa teman kalau persalinan dibantu dengan vacuum akan sangat sakit dan akan berakibat kurang baik untuk bayi. Seakan termotifasi, tenaga saya langsung kembali dan didalam hati berkata ” ayo de’ keluar, bantu ibu, bismillah, ya…allah….laailahailla anta subhanaka innikuntu minazzholimin….” doa itu langsung terucap.

14.20 Wib, terdengar suara bayi laki-laki dengan berat 3500 gram dan panjang 51 cm, Alhamdulillah ya Allah…akhirnya anakku bisa lahir dengan selamat dan sehat tanpa harus di vacuum. Setelah melalui proses panjang, semua kesakitan itu hilang berganti dengan kebahagiaan. Jahitan dan robek yang digunting sudah tidak terasa, yang ada hanya rasa syukur yang tak terhingga. Suami yang sedari tadi menemani, memberikan semangat tanpa lelah, akhirnya menangis bahagia.

Setalah anak kami dibersihan, azan dikumandangkan oleh ayah tercinta sambil menatap haru dan bahagia. “Athar Ali Abyan Fathurahman” kami berikan nama itu, semoga kelak ia menjadi anak yang pintar, cerdas, sehat, dan sholeh. Amiiiiiiiiin. Alhamdulillah……

DSC_8890

DSC_8904

DSC_5333DSC_5331

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: