Pilihan

Ketika semuanya adalah pilihan dan kita terkadang tidak dapat membuat pilihan itu, Thanks God….ternyata Tuhan memberikan pilihan….

Alhamdulillah…mulai senin (2 Nov 09) status saya sudah berubah menjadi full Time Mother, yippiiieeee!!!!

Setelah saya melewati berbagai perasaan, menimbang dan memutuskan, mantap hati saya untuk menjadi FTM. Lega juga akhirnya.

Yak….tugas selanjutnya adalah membesarkan Athar dengan baik dan benar, semoga semuanya bisa tercapai, amiiiinnnnn…..

 

Advertisements

Leave a comment »

His smile changing my world

his smile changing my world

Leave a comment »

kata Ayah

” duduk sini nak, dekat pada bapak. Jangan kau ganggu ibumu. turun lah lekas, dari pangkuannya. Engkau lelaki, kelak sendiri. “

diambil dari status FB, 19/08/09

Leave a comment »

Masa lalu

Seharian kemarin teringat kejadian-kejadian waktu kecil. Teman-teman yang membuatku kangen, rutinitas yang selalu saya kerjakan, dan hobi-hobi yang sangat membuatku senang.

Ada beberapa teman yang sudah saya temukan kembali, ada teman yang dari SD, SMP, SMA bahkan waktu TK, yah…itu semua berkat Facebook. Tapi ada seorang teman yang saya cari-cari dan sangat merindukannya, Hesti namanya. Anak seorang tentara yang ikut pindah ke Palembang karena ayahnya ditugaskan disana. Dia teman SD ku, putih, cantik, rambut ikal panjang yang selalu terkepang. Dia berasal dari Ciamis. Sewaktu SD kami selalu bermain bersama, dia suka main kerumahku dan begitu juga aku. Sering kami bermain sepeda, berenang, jalan-jalan bersama. Disekolah, kami pun sangat senang. Setiap jam istirahat kami tidak pernah melewatkan untuk bermain sodoran hmmm…..apa ya bahasa indonesianya….permainan dengan membuat kotak dan garis sebanyak dua atau tiga buah dimana setiap kotak dan garisnya dijaga oleh satu orang, nanti lawan akan berusaha masuk ke kotak itu hingga kotak yang paling akhir, apabila lawan tersebut tidak tertangkap maka dialah yang menang, bosen dengan sodoran kami bermain kasti atau hanya sekedar bercerita sambil jajan. Ujian EBTANAS pun tiba yang artinya kami sebentar lagi akan berpisah. Selesai pembagian rapot Hesti kembali ikut orang tuanya untuk pindah kekota lain. Terakhir mendapat kabar dia ada di Ciamis bersama orang tuanya.

Kemarin, diperjalanan menuju kantor melihat seorang anak yang dibonceng dengan motor, membawa raket, tas Wilson, sepatu putih bersiap-siap untuk latihan Tennis. Langsung bergumam ” saya dulu seperti itu 🙂 “. Yah…saya dulu seperti itu, dari kelas 4 SD saya sudah mengikuti satu Club Tennis, Dr Mongisidi nama Club nya, dengan seorang pelatih yang bernama bapak Suwaryoso. Setiap hari Senin-Rabu-Jumat-Minggu jam 1 siang saya sudah bersiap untuk berangkat. Dengan membawa raket Pro-Kennex, tas Dunlop, sepatu Eagle, Termos Colemon 2 liter, topi hijau kesayangan, kaos dan celana pendek saya berjalan sekitar 1,5 kilo dari rumah. Saya ingat sepanjang jalan orang akan melihat saya dengan heran atau bertanya-tanya “anak perempuan umur 10 tahun bawa-bawa tas gede jalan di siang bolong yang panas sendirian wah…wah….” seperti itu mungkin hehehe…..Kulit menghitam, rambut cepak, gaya seperti anak cowok itulah saya jaman itu. Papa dan mama yang mengenalkan Tennis pada saya. Papa terutama, dia rajin mengajak saya kelapangan untuk sekedar melihat dia bermain atau bertanding. Kemudian dikenalkanlah saya pada Pak Yoso (panggilannya), pertama saya memakai raket kecil, lupa saya namanya, raket itu sepertinya terbuat dari besi karena cukup berat dan dilempar berkali-kali pun tidak patah 😀 Sebelum memulai latihan inti biasanya kami pemanasan dulu, lari keliling 2 lapangan tennis, push-up, sit-up, jalan kelabang (jalan dengan tangan, kaki dipegang oleh teman), lari-lari ditempat dan banyak pemanasan lain yang harus dilakukan kadang sudah membuat tepar duluan sebelum memulai latihan sebenarnya. Puasa tidak menghalangi saya untuk tetap berlatih, cuma jam nya saja yang diperpendek. Biasanya jam satu siang hingga jam setengah enam baru beres, kalau puasa dimulai jam setengah empat dan selesai jam setengah enam atau menjelang magrib. Lumayan mengikuti beberapa pertandingan, dan lumayan juga bisa memenangkan walaupun tidak disetiap pertandingan mendapatkan juara pertama. Dapat ikut membanggakan sekolah dan membuat seorang guru SD saya untuk ikut mendaftarkan anaknya bergabung di club kami. Saat mulai memasuki SMA, saya sudah jarang atau bahkan tidak pernah latihan lagi ini disebabkan karena saya salah memilih sekolah, saya pilih sekolah yang kelas satu dan duanya selalu masuk di siang hari. Ini otomatis menghentikan kegiatan saya, karena di pagi hari tidak ada jadwal latihan. Hingga saat ini saya masih sering bermimpi sedang bermain tennis bersama teman-teman, sedang bertanding atau hanya mengobrol dengan teman-teman club saya dulu. Sedih juga meninggalkan kesenangan kita, kesenangan yang membawa kita menemui teman-teman baru, berpetualang, dan merasakan tepuk sorai penonton jika kita bisa mengalahkan lawan.

Hobi saya dulu memasak dan memanggil sepupu-sepupu saya untuk mencicipinya atau sekedar menemani dan melihat saya memasak. Biasanya mama akan marah atau pusing karena rumah akan berantakan dan banyak anak-anak kecil yang berkumpul. Saya juga suka memanjat pohon. Pohon yang biasa saya panjat pohon jambu didepan rumah nenek. Sepulang sekolah biasanya saya memanjat sambil melihat anak-anak SMA pulang sekolah. Ada kebiasaan aneh yang sering saya lakukan, yaitu untuk tidak memanjat pohon jika saya akan bepergian keluar kota besoknya, karena takut jatuh dan nantinya batal pergi hehehe…..Saya juga suka bermain sepeda, sering jatuh dan masuk got, kalau sedang marah biasanya suka bersepeda tanpa tujuan, pernah suatu kali keliling-keliling cukup jauh hingga menghabiskan waktu yang lumayan lama tapi anehnya kok orang rumah nggak nyariin. Yah…itulah kebiasaan orang dirumah, kalau saya pergi nggak pernah ada yang nyariin karena mereka tahu saya tukang main nggak pernah anteng dirumah. Waktu dulu kata mereka, saya sering bermain dirumah-rumah orang yang jaraknya cukup jauh dari rumah saya, umur saya waktu itu mungkin sekitar 6 tahunan. Setiap magrib mereka selalu menjemput saya untuk pulang dan biasanya setiap minggu berganti rumah, misalnya satu minggu penuh saya main dirumah si A, minggu depan saya main dirumah si B.

Ternyata banyak kenangan yang menyenangkan. Untuk diceritakan satu persatu lumayan menguras keringat tapi semuanya tetap indah untuk dikenang (doh…)

Comments (1) »

Blog baru buat Athar

Baru kemarin sempat buat blog buat Athar, atharfathurahman.blogspot.com. Bikin cerita tentang Athar, setiap perkembangan dan tingkahnya supaya bisa mengingatkan saya betapa bersyukurnya saya memiliki dia.

Dia membawakan dunia baru untuk saya. Membawakan kebahagiaan untuk kami, keluarga, kerabat dan orang disekitarnya. Membuat saya merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, menjadi seorang yang sangat ditunggu oleh anak tersayang untuk memeluknya, mengendongnya, menyusuinya, menjadi sandarannya, dan semoga akan menjadi yang terbaik untuknya.

Cepat besar anakku. Setiap ulah mu, setiap gerak gerikmu, setiap tawamu, tangismu, suaramu, akan selalu menjadi semangat untuk ibu, menjadi kekuatan, menjadikan doa dan harapan.

Leave a comment »

Kenalkan…namaku Athar

DSC_2543

Halloww…..kenalkan namaku Athar, Athar Ali Abyan Fathurahman. Umurku sekarang 4 bulan 13 hari. Berat badanku 7 kg itu semua berkat ASI yang setiap hari diberikan oleh ibuku. Walaupun kemarin aku sudah belajar makan buah, pisang dan jeruk tapi aku masih kuat minum ASI.

Tanggal 22 maret 2009 aku mulai melihat dunia. Aku lahir di Klinik Kartini, di jalan Pahlawan, dibantu oleh dokter Oni. Beratku waktu lahir 3,5 kg, dengan panjang 51 cm.

Imunisasiku sudah selesai, nanti bakal disuntik lagi kalau umurku sudah 9 bulan. Setiap imunisasi aku nggak pernah nangis histeris, ibu dan ayahku pun terheran-heran. Aku menangis histeris kalau ASI ku telat diberikan, nah saat itu aku bakalan nangis sekencang-kencangnya.

Sekarang aku sudah bisa tengkurep, memindahkan mainan dari tangan kiri ke kanan, bercerita,  menendang, dan senang sekali melihat gambar dan warna. Setiap sabtu  ayah dan ibuku selalu mengajakku jalan-jalan, kami biasanya pergi dengan dibonceng ayah memakai motor. Aku sudah pernah jalan-jalan ke Caringin Tilu, ke Mall, ke rumah teman-teman ayah dan ibu, makan-makan bersama teman-teman ayah dan ibu, dan yang terakhir kemarin bersama om dan tante aku jalan-jalan ke ITB , sekolah masa depanku, amiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnn. Tapi sebenarnya aku bingung, pilih ITB atau ke Jerman ya…… 😀

Comments (2) »

Alhamdulillah…sungguh karunia yang luar biasa

Sabtu tanggal 21 Maret ’09

Sekitar jam 6.30 wib, selesai beres-beres kok ada air keluar dari “itu” ya….saya coba lihat dan menciumnya, kok nggak  berbau dan berwarna, bening seperti air. Malamnya memang sudah keluar flek berwarna coklat, dikira hanya flek biasa bukan tanda-tanda mau melahirkan, biasanya kalau mau melahirkan keluar flek berwarna merah (darah) dan berlendir. Untuk memastikan saya pergi ke dokter yang kebetulan hari ini jadwal kontrol. Oia, minggu ini kehamilan saya memasuki usia 38 minggu. Sekitar jam 9.00 wib saya sampai di klinik bersalin Kartini, lansung daftar dan menceritakan kejadian yang saya alami. Bagian administrasi langsung menyuruh saya ke ruang bersalin untuk diperiksa. Ada bidan yang menangani saya karena dokter yang biasa memeriksa saya belum datang. Setelah dia cek ternyata air tersebut rembesan ketuban saya dan ternyata juga sudah ada pembukaan satu. Bidan menanyakan apakah saya merasakan mules, saya jawab tidak sama sekali. Segera setelah dia memeriksa saya, saya langsung diinfus untuk diinduksi, ternyata diinfus itu sakit huehuehue…..seumur hidup saya baru kali ini saya diinfus, rasanya benar-benar tersiksa 😦 dan penderitaan baru dimulai…..

Sekitar jam 15.00 wib, sudah mulai terasa mules, walaupun masih jarang, 10 menit hanya 4 kali kontraksi, tapi sungguh terasa nikmat huehue…..pembukaan bertambah menjadi dua. Hari ini sungguh terasa lamaaaa…..

Magrib masih terasa mules pembukaan belum juga bertambah, badan sudah tidak karuan rasanya, pengen pipis aja, punggung sakit, semua terasa serba salah. Hingga larut malam pun pembukaan belum juga bertambah.

Minggu, 22 Maret ’09

Pagi sudah menjelang, pembukaan masih berjalan pelan. Dalam satu ruangan bersalin ini hanya ada saya dan seorang bumil yang bernasip sama. Bumil itu merasakan kesakitan semenjak kemarin subuh karena pembukaan berjalan lambat. Sekitar jam setengah 7 ada bumil baru yang mau melahirkan juga, anak kedua, tempatnya tepat disamping saya. Sebelum kedatangan bumil ini terasa hening, sepi, tetapi setelah dia datang semuanya terasa berisik dan sungguh tidak nyaman. Dia mulai berteriak-teriak kesakitan, banyak keluarganya yang  lalu lalang, sungguh sangat mengganggu. Dan satu yang membuat saya sangat stress, jam 12 siang dia sudah melahirkan putranya, hiks…..sedangkan saya masih berjuang.

Jam 12 siang, pembukaan hampir lengkap. Terasa ingin mengejan seperti ingin pup yang sangat besar, dokter belum juga datang. Sakit yang amat luar biasa, semuanya bercampur aduk. Bidan belum memperbolehkan saya mengejan karena pembukaan baru 8, apabila saya terus mengejan akan terjadi pembekaan dan menyebabkan susahnya persalinan nanti.

Pembukaan sudah lengkap, akhirnya dokter datang, dokter langsung bersiap-siap dan memberikan aba-aba untuk mengatur nafas. ” Ayo bu….tarik nafas pelan-pelan, tahan, dorong…..”  “sekali lagi…….” ini berlangsung sangat lama. Infus sempat dibuka karena dianggap sudah tidak perlu, tetapi ternyata setelah infus dibuka rasa mules hilang, akhirnya infus dipasang kembali, sungguh hal yang tidak menyenangkan. Mengejan dimulai lagi ” tarik nafas….dorong….”, “ayo bu sudah kelihatan kepalanya”, “tarik nafas……dorong…..”. Sudah hampir 2 jam tetapi bayi tidak juga keluar, badan saya sudah terasa lemas dan tidak bertenaga, ternyata ini disebabkan saya salah mengejan, seharusnya waktu mengejan harus didorong bukan ditahan diperut, ini yang menyebabkan kepala bayi yang sudah hampir keluar masuk lagi. Jika 2 jam bayi tidak juga keluar, dokter akan melakukan tindakan vacuum, wah…saya langsung teringat kejadian-kejadian yang diceritakan beberapa teman kalau persalinan dibantu dengan vacuum akan sangat sakit dan akan berakibat kurang baik untuk bayi. Seakan termotifasi, tenaga saya langsung kembali dan didalam hati berkata ” ayo de’ keluar, bantu ibu, bismillah, ya…allah….laailahailla anta subhanaka innikuntu minazzholimin….” doa itu langsung terucap.

14.20 Wib, terdengar suara bayi laki-laki dengan berat 3500 gram dan panjang 51 cm, Alhamdulillah ya Allah…akhirnya anakku bisa lahir dengan selamat dan sehat tanpa harus di vacuum. Setelah melalui proses panjang, semua kesakitan itu hilang berganti dengan kebahagiaan. Jahitan dan robek yang digunting sudah tidak terasa, yang ada hanya rasa syukur yang tak terhingga. Suami yang sedari tadi menemani, memberikan semangat tanpa lelah, akhirnya menangis bahagia.

Setalah anak kami dibersihan, azan dikumandangkan oleh ayah tercinta sambil menatap haru dan bahagia. “Athar Ali Abyan Fathurahman” kami berikan nama itu, semoga kelak ia menjadi anak yang pintar, cerdas, sehat, dan sholeh. Amiiiiiiiiin. Alhamdulillah……

DSC_8890

DSC_8904

DSC_5333DSC_5331

Leave a comment »